Seren Taun Kasepuhan Cisungsang Tembus KEN 2026, Budaya Lokal Jadi Magnet Wisata

KABARGMP, LEBAK, BANTEN — Seren Taun Kasepuhan Cisungsang di Kabupaten Lebak, Banten, tidak lagi hanya menjadi ritual tahunan masyarakat adat. Pada 2026, tradisi syukuran atas hasil panen tersebut mendapat ruang lebih luas setelah masuk dalam rangkaian Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi masyarakat melalui pariwisata berbasis budaya.

Rangkaian Seren Taun Kasepuhan Cisungsang 2026 berlangsung pada 21–28 September 2026. Selain ritual adat, kegiatan tersebut diisi bazar pangan lokal dan UMKM, Festival Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), gastronomi pangan lokal, pertunjukan seni, seminar, permainan tradisional hingga kegiatan olahraga.

Masuknya Seren Taun dalam KEN mempertemukan dua kepentingan sekaligus, yakni pelestarian dan promosi kebudayaan serta pengembangan ekonomi masyarakat lokal.

Bagi masyarakat Kasepuhan Cisungsang, Seren Taun bukan sekadar pertunjukan budaya. Ritual tersebut merupakan bagian dari siklus kehidupan masyarakat adat sekaligus momentum untuk mengungkapkan rasa syukur dan merefleksikan hubungan manusia dengan alam serta tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Budaya dan pariwisata berkelanjutan

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti, S.H., M.H., M.M., dalam sambutannya pada Seren Taun Kasepuhan Cisungsang 2026 menekankan pentingnya menjaga kebudayaan dan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan pariwisata Banten yang berkelanjutan.

Menurutnya, kebudayaan merupakan salah satu kekuatan utama dalam pengembangan pariwisata. Melalui Seren Taun, tradisi Kasepuhan tidak hanya diperkenalkan kepada wisatawan, tetapi juga menciptakan ruang bagi tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Dr. Yosep Mohamad Holis, S.Hut., M.T., M.Sc.

Ia menilai kekuatan Kasepuhan Cisungsang tidak hanya terletak pada ritual Seren Taun, tetapi juga pada kesenian, tradisi serta kearifan lokal yang masih hidup dan dijalankan masyarakat.

Karena itu, pengembangan pariwisata berbasis budaya dinilai perlu menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama, bukan sekadar objek tontonan bagi wisatawan.

Target 50.000 pengunjung dan perputaran ekonomi Rp5,5 miliar

Sekretaris Lembaga Adat Kasepuhan Cisungsang, Henriana Hatra Wijaya, mengatakan penyelenggaraan Seren Taun 2026 juga dirancang dengan mempertimbangkan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Penyelenggara menargetkan sekitar 50.000 pengunjung, terdiri atas 40.000 wisatawan lokal dan 10.000 pengunjung nasional. Target tersebut meningkat dibandingkan jumlah kunjungan pada 2025 yang tercatat sekitar 16.800 orang.

Untuk mendukung aktivitas ekonomi, penyelenggara menargetkan keterlibatan sekitar 350 UMKM atau stand, 50 akomodasi berupa homestay dan hotel, serta lima tour operator atau paket perjalanan wisata.

Dari rangkaian kegiatan tersebut, nilai perputaran ekonomi diproyeksikan mencapai sekitar Rp5,5 miliar, meningkat dibandingkan sekitar Rp1,5 miliar pada kegiatan sebelumnya.

Henriana menegaskan, tingginya kunjungan wisatawan tidak semestinya hanya menghasilkan keramaian. Kehadiran wisatawan diharapkan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang menjadi pemilik sekaligus pelaku kebudayaan.

Target tersebut masih merupakan proyeksi penyelenggara dan belum menjadi angka realisasi. Namun, besarnya target menunjukkan mulai berkembangnya Seren Taun sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan budaya, pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Pangan lokal menjadi bagian dari pengalaman wisata

Penguatan ekonomi masyarakat juga terlihat melalui Bazar Pangan Lokal Kasepuhan Cisungsang. Sejumlah produk pangan tradisional seperti papais, bugis, opak, uli, ali, dodol dan gengsot diperkenalkan kepada pengunjung.

Selain bazar, rangkaian kegiatan juga menghadirkan workshop gastronomi yang melibatkan perempuan adat dan pemuda adat.

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan pengetahuan pangan tradisional sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Produk yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata tanpa harus kehilangan identitas budayanya.

Salah satu pelaku usaha yang terlibat adalah Dari Pohon Aren, usaha milik pemuda adat Juhendi yang mengembangkan produk berbasis gula aren.

Kehadiran produk tersebut dalam Bazar Pangan Lokal Kasepuhan Cisungsang 2026 menjadi contoh keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan potensi lokal menjadi produk ekonomi kreatif.

Bagi pelaku usaha masyarakat adat, ruang seperti Seren Taun memberikan kesempatan untuk mempertemukan produk lokal dengan konsumen dari luar daerah secara langsung.

Masyarakat adat tetap menjadi subjek utama

Di tengah peluang ekonomi yang terbuka, Seren Taun tetap memiliki batas nilai yang tidak dapat dipisahkan dari adat.

Bagi masyarakat Kasepuhan Cisungsang, Seren Taun merupakan ritual puncak sekaligus ruang refleksi untuk memperkuat jati diri sebagai masyarakat peladang yang menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.

Tradisi tersebut telah hidup jauh sebelum masuk dalam kalender pariwisata nasional. Karena itu, Seren Taun pada dasarnya bukan tradisi yang diciptakan untuk kepentingan pariwisata.

Wisatawan datang untuk menyaksikan tradisi yang memang masih dijalankan oleh masyarakat.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya: bagaimana promosi dapat memperluas manfaat ekonomi tanpa menggeser makna, nilai dan tata kehidupan masyarakat adat.

Henriana menekankan pentingnya menempatkan masyarakat Kasepuhan sebagai pihak yang memiliki peran utama dalam menentukan bagaimana kebudayaannya diperkenalkan kepada publik.

KEN bukan tujuan akhir

Masuknya Seren Taun Kasepuhan Cisungsang ke dalam KEN 2026 memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kebudayaan, kesenian, kuliner dan produk lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Namun, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan acara.

Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat lokal memperoleh peluang usaha, UMKM mendapatkan pasar baru, pemuda dan perempuan adat semakin terlibat, serta manfaat ekonomi dapat terus berlangsung setelah rangkaian Seren Taun selesai.

Target perputaran ekonomi sebesar Rp5,5 miliar menjadi gambaran besarnya potensi yang diharapkan dari kegiatan tersebut. Namun, dampak sebenarnya baru dapat dinilai dari seberapa besar aktivitas ekonomi itu benar-benar berputar dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Pada akhirnya, Seren Taun Kasepuhan Cisungsang di panggung KEN 2026 memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan pariwisata sekaligus pintu masuk bagi pengembangan ekonomi masyarakat adat.

Tantangannya adalah memastikan masyarakat Kasepuhan Cisungsang tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi tetap menjadi subjek utama dalam menjaga, mengembangkan dan menentukan arah kebudayaannya sendiri, sekaligus menjadi pihak yang merasakan manfaat dari pertumbuhan pariwisata di wilayahnya. (Hd/Jy/Lkn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *